Please don’t judge someone just by a book..

Baru-baru ini (dah agak basi sih.. :-p ) masyarakat Indonesia diributkan dengan terbitnya buku terjemahan karya wartawan koran The New York Times, Tim Weiner yang judulnya Legacy of Ashes, the History of CIA (Membongkar Kegagalan CIA). Sebenernya buku aslinya dah terbit setahun yang lalu, tapi translatenya baru diterbitin di Indo sekitar bulan lalu. Dalam buku ini ada subjudul “Kami hanya menunggangi ombak itu ke pantai” yang mengulas tentang keterkaitan salah satu tokoh nasional kita, Adam Malik, terhadap organisasi intel Amerika, CIA. Masalah ini dikupas di majalah Tempo atau kalo ada yang maw baca sekilas, bisa baca di sini. Gw pengen post tentang masalah ini, karena gw sebagai generasi penerus bangsa (weeeksss… :-p ) ngrasa prihatin dengan kondisi masyarakat kita yang terlalu memforsir diri dengan permasalahan yang sebetulnya dah ga perlu lagi diungkit-ungkit, apalagi di tengah krisis kepemimpinan menjelang Pemilu 2009.

Adam Malik mengawali kariernya sebagai seorang wartawan dan tercatat sebagai pendiri Kantor Berita Antara. Dan kalo lo inget lagi pelajaran sejarah jaman SD dulu (eh bukannya SMP ya? ya whatever lah..*apatis banged sih gw!!*) Adam Malik adalah salah satu tokoh yang diculik oleh para pemuda, bersama dengan Soekarno ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Dalam masa pemerintahan Soekarno, Adam Malik menjadi salah satu orang kepercayaan yang antara lain ditugaskan sebagai Ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Sedangkan dalam masa pemerintahan Soeharto, Adam Malik memegang jabatan sebagai Menlu, dan beliau juga salah satu tokoh yang menggagas berdirinya ASEAN 1967. Ia bahkan pernah dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York (at that time our country was still counted on international league😦 ).

Namun Adam Malik juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang kontra PKI pada tahun 1965 dan memotori gerakan Kap-Gestapu yang menurut Duta Besar Amerika di Jakarta (pada masa itu), Marshall Green, menyatakan bahwa Amerika telah mendanai kegiatannya senilai Rp 50 juta yang pada saat itu sebanding dengan US$ 1,7 juta. Dalam bukunya Tim Weiner menyebut Adam Malik sebagai agen CIA yang membantu Amerika dalam menumpas gerakan Komunis di Indonesia. Tapi sebelumnya mari kita lihat apa yang dimaksud Tim Wiener sebagai “agen CIA”, ”agen” adalah seseorang yang melakukan sesuatu atas permintaan perwira CIA. Adapun para perwira itu sering menyamar menjadi diplomat pada perwakilan Departemen Luar Negeri AS. ”Jadi sangat mungkin seorang agen asing mengira dia sedang berhubungan langsung dengan Departemen Luar Negeri, padahal dia sedang memberikan informasi kepada perwira CIA,” katanya.

Weiner mewawancarai Clyde McAvoy, mantan diplomat yang bertugas di Kedutaan Amerika di Jakarta pada 1961-1966. McAvoy bertugas ke Indonesia dengan misi penyusupan ke Partai Komunis Indonesia dan pemerintahan Soekarno. Dan ia menyatakan bahwa ”Saya merekrut dan mengendalikan Adam Malik, dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut.”

Menurut gw, bukankah kita ga bisa menilai kalo pernyataan itu benar, hanya dari kesaksian seseorang. Sistem peradilan aja mensyaratkan at least ada dua bukti yang relevan dengan permasalahan yang sedang diperkarakan. Kalo dari dokumen telegram yang disimpan oleh CIA, hubungan diplomatis antara Dubes Amerika di Jakarta dengan Adam Malik adalah sesuatu yang wajar, tidak berarti bahwa Adam Malik adalah seorang agen CIA. Meskipun di balik itu, terlihat jelas akan kepentingan Amerika terhadap penumpasan gerakan komunis di Indonesia.

Dan menurut gw lagi, segala sesuatu yang terkait dengan hal “per-intel-an” itu ga ada yang jelas memang. Baik dari metode perekrutan, pola kerja, hubungan kerja, dan lainnya, diatur sedemikan rupa hingga “tertata”, namun tetap random. Gw memilih untuk tidak mempercayai kalo Adam Malik adalah seorang agen CIA, karena dalam hubungan politis-diplomatis, segala informasi juga bisa menjadi terbuka, bukannya negara kita memang menganut asas “bebas dan aktif” dalam hubungan internasional. Sorry kalo pendapat gw ngaco, hehe..

Tapi ga baik kan kalo kita mengungkit kejeleka seseorang yang udah meninggal, karena dya ga bisa menuntut dan mengklarifikasi langsung…(serem ya kalo bisa langsung…hehehe…)

5 responses to this post.

  1. Posted by tomi on December 15, 2008 at 6:07 pm

    masalahnya neng, pengetahuan kita tentang sejarah indonesia kan dari buku. siapa yang tau apa yang sebenarnya dilakukan pki, apa yang sebenarnya dilakukan soeharto, siapa yang tau mana yang benar, semua sudah diatur sama sekelompok orang.
    tau gak kenapa bbm kita harganya masih 5000 padahal harga/barel uda $45an, harusnya rakyat berhak lebih murah lagi. tapi ya itu tadi, kita harus membayar untuk “sesuatu”, seperti yang telah direncanakan oleh sekelompok orang tersebut. ada skenario besar, berjalan puluhan tahun,

    sumber:wawancara dengan seorang akuntan top yang sudah tobat, yang sekarang mengisi hari2 tua nya dengan menyesali dan menangisi dosa-dosa masa lalunya

  2. Posted by widiajessti on December 15, 2008 at 6:25 pm

    Dan buku sejarah itu ga cm satu, banyak penulis tentang cerita sejarah, tapi kadang kita sudah terpaku pada satu versi dan jadi enggan (skeptis) untuk menerima adanya versi lain dari suatu peristiwa..

    Masalah BBM, yang namanya macroeconomics adjustment tu ga semudah balik tangan. secara objectif, pemerintah mungkin masih mempertahankan harga Rp 5000 itu untuk subsidi silang krisis energi lainnya..yah who knows sih..

  3. Posted by idho on December 16, 2008 at 10:15 am

    Tom, menurut aku harga BBm yang rada mahal tuh perlu juga untuk diterapin biar masyarakat sadar akan mahalnya BBM so ngga boros pemakaian. Cuman yang jadi masalah proteksi dari pemerintah yang kurang. Kenapa orang berduit ma rakyat gak berduit ngeluarin pengorbanan yang sama untuk beli BBM. Harusnya pemerintah bisa dunk ngasih subsidi ke pihak yang tepat?!

  4. Posted by kebhoganteng on December 16, 2008 at 5:18 pm

    saat ini ada banyak hal yang sedang berkumpul bersama, Ketika diantara mereka tidak memiliki fungsi dan tujuan, Merekapun tetap terdiam. Bahasa isyarat tetap mengiringi keadaan mereka, Ada yang mengatakan bahwa mereka terlalu diam dan itu salah. Ada pula yang sebaliknya, Tapi seringkali diam dan bicarapun tidak selalu menjadi pilihan terbaik! Lalu apa? Itulah adanya, tak usah bertanya dan menyangkal. Memang mudah menge-JUDGE, apalagi mencari kesalahan dari pihak lain untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik dari yang kita JUDGE tanpa sadar apakah perbuatan yang pernah kita lakukan lebih baik ? Atau bahkan lebih buruk tapi hanya anda dan akibat dari perbuatan anda yang tahu?

    http://kebhoganteng.wordpress.com

  5. Posted by juzztyas on December 17, 2008 at 8:46 am

    yaaah sejarah memang milik para pemenang
    miris…tapi itulah fakta🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: