Pesta Demokrasi di Negeri ini

Sore itu, secara tidak sengaja saya melewati sebuah keramaian di salah satu sudut kota. Sekilas memperhatikan, mungkin ratusan orang berkerumun disana, terfokus pada satu titik. Disana-sini banyak bendera berkibar-kibar dengan background warna yang tidak perlu saya sebutkan, yang pasti bukan merah darahku, putih tulangku.

Ditengah keramaian itu, berdiri tegak seorang orator di belakang podium dengan tangan teracung ke atas dan terlihat sangat bersemangat dalam meneriakkan janji-janjinya. Orator itu terlihat sangat terpelajar, berpakaian perlente dengan jas hitam dan dasi merah mengkilat. Beberapa orang lainnya yang duduk di belakang podiumnya, mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk-anggukkan kepala, pertanda menyepakati apa yang disampaikan oleh si orator.

Saya pun ikut mendengarkan apa yang disampaikan oleh si orator, meskipun tidak menyatu dalam kerumunan. Bukannya memahami apa yang dia sampaikan, tetapi dalam benak saya justru berkelebatan beberapa pertanyaan sebagai respon atas pernyataan dan janji yang terucap oleh si orator. hmm..tidak perlu saya ceritakan detail apa saja pertanyaan saya yang muncul pada saat itu, hanya seorang saya..

Tak seberapa jauh dari kerumunan itu, dengan gerobak yang mungkin sudah berumur lebih dari lima tahun dan dagangan yang masih terlihat penuh dari toples-toples yang dijajarkan di muka gerobak tuanya, berdiri seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah memutih di beberapa tempat. Dia duduk dengan wajah kuyu, sambil mengibaskan handuk kecilnya, berusaha mengusir udara panas sore hari itu. Mungkin nanti malam akan turun hujan..

Saya pun menghampiri gerobak tua itu, lalu memesan minuman. Dengan hangat dia menyapa saya, lalu saya pun duduk di kursi yang diletakkan di belakang gerobak. Setelah menyerahkan pesanan saya, Bapak itu pun duduk di dekat saya.

” Ude dari tadi pagi, Abah nongkrong di sini, padahal banyak bener orang, tapi pada kagak pengen minum apa ya..”, ujar si Bapak penjaja es, memulai percakapan.

“Hmm..emang mulai jam berapa tadi Bah kampanyenya?”, jawab saya sekenanya.

“Mulai agak siangan sih..”, si Abah menjawab dengan nada kehilangan semangat.

“Rejeki kan udah ada yang ngatur Bah, tenang aja..”, saya menjawab dengan gaya menenangkan.

“Tapi Abah ga akan milih nih partai, abis dagangan Abah ga laku!”, sergahnya kasar. Nada yang saya tangkap sebagai kekecewaan..

Saya  terdiam dan tersenyum.

Menurut saya, pemikiran simpel orang seperti Abah inilah yang harus lebih kita perhatikan. Sungguh bukan maksud saya menepikan pemikiran orang seperti Abah, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa begitulah setidaknya gambaran pemikiran sebagian masyarakat Indonesia terhadap “pesta” demokrasi yang tidak lama lagi akan diselenggarakan.

Dana triliyunan rupiah digelontorkan untuk mendanai pesta tersebut, berbagai koalisi dibentuk, strategi-strategi politik terkonspirasi, politisi mulai susup-menyusup mencari posisi, pengumpulan massa, janji-janji kemajuan diteriakkan..Pilihlah saya, jika anda ingin pengangguran di Indonesia berkurang..karena saya menganggur..

I.R.O.N.I.S

Apakah itu suatu wujud kebanggaan? Bahwa negara kita memiliki sistem demokrasi yang maju, bahwa sistem demokrasi itu yang telah mendapat pengakuan dari pemerintahan Amerika, disampaikan melalui Menteri Luar Negerinya saat melakukan lawatan ke negeri ini. Padahal di sisi lain, masyarakat kita bahkan belum mengerti arti demokrasi itu sendiri..

Mungkin seharusnya kita tidak perlu berpesta, seperti kata Udje (Ust. Jeffry), cukup syukuran aja, jadi tidak perlu triliyunan..🙂

Untuk saya, seorang negarawan tidak perlu mengumbar janji, ia hanya perlu menghidupkan kembali semangat bangsa ini, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar..

4 responses to this post.

  1. iya, saya juga ngimpiin dimana setiap caleg/calon apapun namanya, berkampanye tanpa harus keluar banyak modal, yang harus dia pikirin buat gimana ngembaliinnya hee..^^

  2. justru yang saya tahun swing voters begitu tu yang pada justru dimanfaatin, dibodo2in biar milih para kandidat yang paling bisa ngasih harapan muluk dan image yang paling bagus^^
    apatisme mereka membuat mereka kurang mau berpikir lebih banyak.

  3. Posted by widiajessti on March 20, 2009 at 9:32 am

    sistem demokrasi yang dijalankan saat ini memang sangat baik, karena masyarakat bisa memilih sendiri calon yang diinginkan, fair enough..tapi di sisi lain sistem ini justru menciptakan raja-raja kecil.
    bayangin aja, pilkades pun bisa ngabisin dana sampe ratusan juta..makanya abis itu yang terpikir hanya gimana cara kembaliinnya..

    yah…itulah Indonesia..

    tapi kita harus tetap berharap the next leader bukan lagi hanya seorang tokoh simbolis..🙂

  4. Posted by juzztyas on March 21, 2009 at 12:49 pm

    bangsa kita sudah terbiasa dengan mencari solusi yang sifatnya short term, bukan long term
    biasa buat nyari solusi yang sifatnya instant, bukan comprehensive
    ya pemilu ini contohnya….gimana mau dapat hasil yang bagus kalo pendidikan politik, baik dari yg milih maupun dipilih, aja pas2an
    jadi ya keliatan bagus di luar ajah…tapi pondasinya keropos….

    jadi inget Ito *bubarkan Indonesia, bentuk negara kelima (apa perlu se-ekstrim itu??)*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: