belajar bersyukur dan bersahaja dari kereta ekonomi

Pagi ini sekali lagi, aku berangkat dengan menggunakan kereta ekonomi. Mungkin menurut sebagian orang tidak ada yang istimewa dengan kereta ekonomi, terlebih untuk mereka yang sudah setiap hari pulang pergi dengan kereta ekonomi. Tapi aku adalah sebagian yang lain, yang diberikan pembelajaran melalui kereta ekonomi, seperti halnya sahabat baruku, gadis kecil dengan jutaan mimpi, yang juga memperoleh hal yang sama.

Mengapa istimewa?

Bukan aku tidak pernah naik kereta ekonomi hlo sebelumnya, bahkan pernah sekali aku naik kereta ekonomi Jakarta – Jogja, tapi hal itu kulakukan bersama teman-teman untuk mencari pengalaman. Istimewa, tapi hanya pengalaman yang kuperoleh, bukan pembelajaran.

Biasanya aku lebih sering menggunakan jasa kereta eksekutif untuk keluar kota dan kereta ekspress untuk pulang pergi dari rumah ke kantor, alasannya simpel sekali, jelas karena waktu tempuh yang lebih cepat (meskipun terkadang tidak bisa menjamin), kondisi kereta yang ber-AC dan lebih bersih (dibanding kereta ekonomi), dan penumpang yang juga lebih ‘bersih’ karena kebanyakan pengguna kereta ekspress adalah para pekerja kantoran. Bahkan terkadang aku rela menunggu jadwal keberangkatan berikutnya, jika tertinggal kereta yang aku kejar, tidak terpikir untuk naik kereta ekonomi.

Bukan apa-apa, yang ada dibayanganku tentang kereta ekonomi di Jakarta adalah panas, sumpek, berdesak-desakkan, kotor, dan ancaman kriminalisasi. Hal itulah yang menentukan preferensiku, sungguh.

Awalnya, sebuah sentilan kecil buatku datang dari si gadis kecil dengan jutaan mimpi, yang tidak merasa keberatan dengan kondisi kereta ekonomi Jakarta. Kemudian aku mulai membiasakan diri untuk naik kereta ekonomi (baru beberapa kali sih sebenarnya), tapi ternyata tidak seburuk bayanganku, tak mengapa ketinggalan kereta ekspress karena aku tidak lagi keberatan untuk naik kereta ekonomi, alhamdulillah.

Pagi ini, di kereta ekonomi di kepalaku berseliweran banyak pikiran, bahwa selama ini aku kurang bersyukur bisa dengan ‘mudah’ pulang pergi naik kereta ekspress, ternyata banyak orang yang mengadu nasib dengan bekerja di Jakarta, dengan penghasilan yang tidak banyak, dan hanya mampu membeli tiket kereta ekonomi.

Memang ada harga, ada rupa (hal ini berlaku untuk banyak hal), tapi yang kusadari adalah jika kita tidak memiliki yang lebih itu, ternyata tidak membuat kita kekurangan.

Pemandangan slum area di sekitar pinggiran rel kota Jakarta yang membuatku sadar betapa beruntungnya aku, hufff…. Ya Allah, betapa aku kurang sekali bersyukur untuk semua nikmatMu.. Tidak ada yang membedakanku dengan penumpang kereta ekonomi lainnya, bahkan mungkin kedudukan mereka dimatamu justru lebih terhormat. Dan alhamdulillah aku tidak merasa kekurangan dengan segala yang kumiliki saat ini, insyaallah cukup Gusti Pangeran🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: