Janji dan Sumpah Bocah Pirikan

Kurang lebih 7 tahun saya melangkah keluar dari boulevard SMA Taruna Nusantara, sekolah yang letaknya sangat jauh dari keramaian kota. Sekolah yang konon kabarnya didesain untuk mencetak calon pemimpin di masa yang akan datang, sekolah yang membuka mata saya lebih luas menjelajah. Saya pun siap melanjutkan hidup dan pendidikan di tempat lain, dengan membungkus semua semangat, nasehat, memori, idealisme, pengalaman, pelajaran, dan pengembangan diri. Time flies 🙂

Selangkah kemudian, saya menjalani pendidikan di STAN selama 3 tahun, bukan pilihan hati, tetapi demi menjembatani sebuah keinginan dari orang tua saya. Di tempat ini segala sesuatunya berbanding terbalik dengan yang saya alami di SMA TN, tidak ada idealisme nasionalisme hanya doktrin agama yang terkadang membuat diri terprovokasi, tidak ada kerja keras untuk belajar hingga pagi hanya ada ‘sistem kebut semalam’, tidak ada aturan, tidak ada ikatan persaudaraan hanya persahabatan sempit, dan tidak ada nasehat dari pembimbing, banyak lagi tidak ada lainnya. Singkatnya, ‘bungkusan’ yang saya pegang erat-erat ketika keluar dari SMA TN pun hilang menguap entah kemana. Otak saya jalan di tempat, tidak ada tantangan.

Waktu kembali bergulir untuk saya, hingga saya memasuki sekolah baru saya di Universitas Indonesia. UI masih lebih baik dari STAN bagi saya, sekali lagi bagi saya, no offense 🙂 Di UI perkembangan otak saya mulai kembali berjalan, tetapi memang hanya sebatas kemampuan akademik yang terasah. Minimal saya menghidupkan kembali kemampuan daya analitis saya, kembali melek dengan perkembangan dunia. UI memang mempersiapkan bibit-bibit profesional di dunia kerja, terlihat dari komitmen pembimbingnya.

Beberapa hari yang lalu saya dan suami menghadiri acara Reuni Akbar Ulang Tahun SMA Taruna Nusantara yang ke-20, awalnya kami ragu untuk hadir atau tidak sebab kebetulan cuti saya belum di-approved oleh atasan saya, tetapi karena merasa sebagai pasangan yang dipertemukan secara langsung dan tidak langsung oleh SMA Taruna Nusantara, akhirnya kami memutuskan untuk hadir.

Di luar dugaan kami, melangkahkan kaki memasuki pelataran SMA TN ternyata menguraikan kembali semua semangat dan janji yang dulu pernah mengikat kami. Menyanyikan hymne SMA TN di balairung tetap membuat bulu kuduk merinding, tetap membawa haru.

Dengan semua pernak pernik yang ada, akhirnya saya tersadar kembali akan satu hal, janji dan sumpah yang pernah terucap 7 tahun lalu saat masih mengenakan seragam putih abu-abu..

MEMBERIKAN KARYA TERBAIK BAGI BANGSA DAN NEGARA

Selalu melakukan yang terbaik di setiap langkah yang ditempuh, sekecil apapun itu, dimanapun kita berada, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Karena “menjadi yang terbaik itu konsekuensinya seumur hidup” (Sadja, 1995).

Tidak main-main bukan, kalimat itu terasa membakar semangat untuk melakukan lebih dan lebih lagi, untuk memacu diri belajar lebih banyak lagi, karena perjuangan memperbaiki diri dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik itu tidak pernah ada ujungnya. Dan kalimat ini akan menjadi racun bagi alumni SMA Taruna Nusantara, seumur hidup.


2 responses to this post.

  1. Permisi kak. Saya 03.3706 =) Tidak sengaja terdampar ke blog ini… Wah, baca posting kakak saya jadi pingin baca bukunya…

  2. teman sekeretakyu :
    “STAN Di tempat ini segala sesuatunya berbanding terbalik dengan yang saya alami di SMA TN, tidak ada idealisme nasionalisme hanya doktrin agama yang terkadang membuat diri terprovokasi, tidak ada kerja keras untuk belajar hingga pagi hanya ada ‘sistem kebut semalam’, tidak ada aturan, tidak ada ikatan persaudaraan hanya persahabatan sempit, dan tidak ada nasehat dari pembimbing, banyak lagi tidak ada lainnya”
    wadduh klo semua anak stan baca ini gmn jeng??heuheue..
    si ayah juuga pernah komentar yg sama..beda bgt katanya pendidikan di TN sama STAN..
    dari segi kedisplinan apalagi..jauhh bgt katanya..(menurut si ayah ya)
    aku cuman diam dan mendengarkan..
    tapi bergantung pada pribadinya juga..bagaimana dia mau merubah suatu “habit” yg biasa dan mendobrak menjadi sesuatu yg tidak biasa di lingkungannya..agak susah memang..

    semoga semangat di TN terus dipupuk ya darling..
    semangat untuk menghasilkan sesuatu untuk negara itu..kejauhan ya..hehehe
    keep spirit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: